Anak Penjual Es

on Selasa, 04 Februari 2014


Bismillahi Rahmani Rahim….

Ku mulai tulisanku mngucapkan kata basmalah berharap dapat berberkah bagi semua orang untuk di baca, Malam  ½  malam di dalam kamar dengan luas 3x3 meter, ku ambil laptop sambil mendengarkan musik kamar sebelah, bertujuan untuk mengukir sedikit kisah dari anak laki-laki bernama Muhammad Aras.

Iyaa itulah namaku….


Saya hanya seorang anak lahir dari keluarga sederhana sekian banyaknya yang memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hingga menjadi orang yang sukses kelak. di temani dengan dua saudari saya  Nurwahida dan Nur Azisah Rustam saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, keluar dari Rahim seorang wanita (Ibu) yang rela berkorban selama Sembilan bulan demi kami namanya Sattiara di temani dengan sosok ayah yang rela bekerja banting tulang untuk menafkahi kami.

Hidup dalam keluarga sederhana yang jauh dari kesempurnaan tak membuat kami mengeluh dengan keadaan yang di hadapi. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri kedua orang tua pergi merantau ke negeri jiran, yahh Negara Malaysia jarak yang begitu jauh untuk bertemu melewati pulau untuk sampai di Negara itu. Kerinduan kami bertiga pun tak terbendung meneteskan air mata saat melihat keluarga lain yang lengkap karena kami harus jauh dari jangkauan orang tua, jauh dari belaian kasih sayangnya seperti yang di rasakan anak seusiaku pada umumnya.

Anak penjual Es…

Eaahh sejak Sekolah dasar saya dengan kepercayaan diri yang tinggi,tanpa  rasa malu dan dengan mengabaikan kata anak sekolahan yang lain saya membawa sebuah wadah bisa di bilang rantang. Kalian tahu apa isinya tak lain dan tak bukan isinya Es itulah yang saya bawa kemudian di jual kepada teman seusiaku, begitulah setiap aktivas keseharianku sekolah sambil jual es dengan harga seribu rupiah terkadang saya dapat 20 ribu/hari. Bermodalkan es yang dibuat oleh Tante saya dengan upah 3-5 ribu rupiah bagi anak kecil pasti senang sekali dapat uang sendiri. Perjuangan pun tidak main2 karena tempat saya berada di tengah antara rumah tante dengan sekolah jaraknya pun yaaa lumayan jalan kaki sampai tujuan..:)
Hingga menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama saya melakukan aktivitas jualan es. Hidup memang tak semudah yang di pikirkan jika kita mengkaji kehidupan itu sendiri pengertian sangat luas. Masa2 SMP setiap harinya berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 10 KM, namun itu bukanlah halangan terbesar kami untuk tetap bersekolah dengan keringat bercucuran di badan tuk sampai di sekolah. Tak terasa capeknya sihh karena banyak juga yang temani jalan sambil cerita, bukannya menyombongkan tapi Alhamdulillah bisa dapat prestasi juga masuk 5 besar saya tak pernah menyangka ternyata saya juga bisa hehheh.

Masa- masa SMA..,..
Tahun 2004 tepatnya saya masuk SMA Negeri 2 Bulukumba dimana masa-masa menyenangkan paling ku kenang seruuu dan takkan pernah saya lupakan banyak teman, sahabat dan juga guru dengan karakter berbeda. Saya paling ingat salah satu guru yang paling disiplin diantara para guru kalau ada jadwal mengajarnya 5 menit sebelum mulai kelas dia sudah didalam kelas dan 5 menit setelah lonceng berbunyi get out jauh2 dari kelas, yaaa dia guru bahasa inggris. Namun masa itu tidaklah cukup membahagiakan bagiku setelah naik kelas XII dikala pertengahan semester. Waktu itu saya tetap melakukan aktivitas keseharianku bangun pagi lalu pergi kesekolah lonceng berbunyi tanda masuk saya pun masuk dalam kelas, memasuki jam kedua tiba-tiba ada kabar saya harus pulang kekampung secepatnya. Saya izin pulang dari sekolah lalu menjemput adekkudi kala itu juga sekolahnya yang berbeda dengan saya di SMAN 1 BLK kemudian bergegas pulang kampong. Sambil naik motor saya terus bertanya-tanya dalam hati ada apa sebenarnya kenapa suasana ini terasa menyedihkan, sesampainya dirumah saya langsung dipegang oleh Tante  seraya berucap yang sabar nak sambil menangis. Kesedihanku ini dan juga keluarga dengan cucurang air mata harus ikhlas dengan berpulangnya ke Rahmatullah Alm. Ayah saya yang meninggalkan seorang istri dan 3 anaknya. Saya tak pernah menyangka akan seperti saya sangat menyesal, menyesal tidak bisa melihatnya untuk terakhir kaliny, menyesal karena tidak bisa membeli tiket pesawat, menyesal karena dia harus menanggung resiko kerja, menyesal tidak sempat meminta maaf atas kesalahanku selama ini, menyesal melihat kedua saudara saya bersedih dan menyesal belum banyak yang saya perbuat untuk keluarga Kini hanya saya sendiri laki-laki dalam keluarga. Ya Allah berikan Ayah hamba tempat disisiMu maafkanlah segala yang telah diperbuat selama di dunia. Aamiin
Dear alm. Father…
“Lihatlah anak-anakmu di surga sana bahwa dengan izinNya kelak semua anakmu akan sukses dan bermanfaat bagi orang2 seperti yang telah Ayah impikan selama ini dengan kerja kerasmu”. teringat waktu masa kecilku ayah menaikkan saya di pundakmu membawaku kerumah nenek menempuh jarak yang begitu jauh, melewati sungai dan pengunungan kecil untuk sampai namun engkau tak pernah sedikitpun mengeluh.



0 komentar:

Posting Komentar