Bismillahi
Rahmani Rahim….
Ku mulai
tulisanku mngucapkan kata basmalah berharap dapat berberkah bagi semua orang
untuk di baca, Malam ½ malam di dalam kamar dengan luas 3x3 meter,
ku ambil laptop sambil mendengarkan musik kamar sebelah, bertujuan untuk
mengukir sedikit kisah dari anak laki-laki bernama Muhammad Aras.
Iyaa itulah
namaku….
Saya hanya
seorang anak lahir dari keluarga sederhana sekian banyaknya yang memiliki
cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hingga
menjadi orang yang sukses kelak. di
temani dengan dua saudari saya Nurwahida
dan Nur Azisah Rustam saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, keluar
dari Rahim seorang wanita (Ibu) yang rela berkorban selama Sembilan bulan demi
kami namanya Sattiara di temani dengan sosok ayah yang rela bekerja banting
tulang untuk menafkahi kami.
Hidup dalam
keluarga sederhana yang jauh dari kesempurnaan tak membuat kami mengeluh dengan
keadaan yang di hadapi. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri kedua orang
tua pergi merantau ke negeri jiran, yahh Negara Malaysia jarak yang begitu jauh
untuk bertemu melewati pulau untuk sampai di Negara itu. Kerinduan kami bertiga
pun tak terbendung meneteskan air mata saat melihat keluarga lain yang lengkap
karena kami harus jauh dari jangkauan orang tua, jauh dari belaian kasih
sayangnya seperti yang di rasakan anak seusiaku pada umumnya.
Anak penjual
Es…
Eaahh sejak
Sekolah dasar saya dengan kepercayaan diri yang tinggi,tanpa rasa malu dan dengan mengabaikan kata anak
sekolahan yang lain saya membawa sebuah wadah bisa di bilang rantang. Kalian
tahu apa isinya tak lain dan tak bukan isinya Es itulah yang saya bawa kemudian
di jual kepada teman seusiaku, begitulah setiap aktivas keseharianku sekolah
sambil jual es dengan harga seribu rupiah terkadang saya dapat 20 ribu/hari.
Bermodalkan es yang dibuat oleh Tante saya dengan upah 3-5 ribu rupiah bagi
anak kecil pasti senang sekali dapat uang sendiri. Perjuangan pun tidak main2
karena tempat saya berada di tengah antara rumah tante dengan sekolah jaraknya
pun yaaa lumayan jalan kaki sampai tujuan..:)
Hingga
menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama saya melakukan aktivitas jualan es.
Hidup memang tak semudah yang di pikirkan jika kita mengkaji kehidupan itu
sendiri pengertian sangat luas. Masa2 SMP setiap harinya berjalan kaki menempuh
jarak kurang lebih 10 KM, namun itu bukanlah halangan terbesar kami untuk tetap
bersekolah dengan keringat bercucuran di badan tuk sampai di sekolah. Tak
terasa capeknya sihh karena banyak juga yang temani jalan sambil cerita,
bukannya menyombongkan tapi Alhamdulillah bisa dapat prestasi juga masuk 5
besar saya tak pernah menyangka ternyata saya juga bisa hehheh.
Masa- masa
SMA..,..
Tahun 2004 tepatnya
saya masuk SMA Negeri 2 Bulukumba dimana masa-masa menyenangkan paling ku
kenang seruuu dan takkan pernah saya lupakan banyak teman, sahabat dan juga
guru dengan karakter berbeda. Saya paling ingat salah satu guru yang paling
disiplin diantara para guru kalau ada jadwal mengajarnya 5 menit sebelum mulai
kelas dia sudah didalam kelas dan 5 menit setelah lonceng berbunyi get out
jauh2 dari kelas, yaaa dia guru bahasa inggris. Namun masa itu tidaklah cukup membahagiakan
bagiku setelah naik kelas XII dikala pertengahan semester. Waktu itu saya tetap
melakukan aktivitas keseharianku bangun pagi lalu pergi kesekolah lonceng
berbunyi tanda masuk saya pun masuk dalam kelas, memasuki jam kedua tiba-tiba
ada kabar saya harus pulang kekampung secepatnya. Saya izin pulang dari sekolah
lalu menjemput adekkudi kala itu juga sekolahnya yang berbeda dengan saya di
SMAN 1 BLK kemudian bergegas pulang kampong. Sambil naik motor saya terus
bertanya-tanya dalam hati ada apa sebenarnya kenapa suasana ini terasa
menyedihkan, sesampainya dirumah saya langsung dipegang oleh Tante seraya berucap yang sabar nak sambil
menangis. Kesedihanku ini dan juga keluarga dengan cucurang air mata harus
ikhlas dengan berpulangnya ke Rahmatullah Alm. Ayah saya yang meninggalkan
seorang istri dan 3 anaknya. Saya tak pernah menyangka akan seperti saya sangat
menyesal, menyesal tidak bisa melihatnya untuk terakhir kaliny, menyesal karena
tidak bisa membeli tiket pesawat, menyesal karena dia harus menanggung resiko
kerja, menyesal tidak sempat meminta maaf atas kesalahanku selama ini, menyesal
melihat kedua saudara saya bersedih dan menyesal belum banyak yang saya perbuat
untuk keluarga Kini hanya saya sendiri laki-laki dalam keluarga. Ya Allah
berikan Ayah hamba tempat disisiMu maafkanlah segala yang telah diperbuat
selama di dunia. Aamiin
Dear alm. Father…
“Lihatlah anak-anakmu
di surga sana bahwa dengan izinNya kelak semua anakmu akan sukses dan
bermanfaat bagi orang2 seperti yang telah Ayah impikan selama ini dengan kerja
kerasmu”. teringat waktu masa kecilku ayah menaikkan saya di pundakmu membawaku
kerumah nenek menempuh jarak yang begitu jauh, melewati sungai dan pengunungan
kecil untuk sampai namun engkau tak pernah sedikitpun mengeluh.

0 komentar:
Posting Komentar